Thursday, April 30, 2009

Lagu Cinta Anak Peribumi

Dengan keringat lelah
telah kubelah
resah malam ke hujung pagi
antara limpah budi
bayang bulan dan bahang mentari

Dalam ramah setianya
pada menguntum bunga
harum mimpi anak peribumi

Di lembah lurah tanah ini
telah kubenamkan hangat nadi
mengenggam gunung kudrat
bersama dendam yang sarat
demi membakar derita abad

Di angin perkasa langkah dan lenggang
di kolam yakin telek dan pandang
maka bersama air mata dan darah ini
aku lagukan lagu cinta anak peribumi


Gemanya mengegar teluk tanjung dasar lautan
Gemanya mencium lirik jernih awan gemawan
Lalu bersatu di ladang kehidupan
Tumbuh bercambah rendang dan berbuah
ke denyut rasa jantung sentosa

~ Dharmawijaya ~



Sajak ini saya hafal sejak usia 17 tahun. Waktu itu puisi ini salah satu kajian untuk kertas kesusasteraan melayu SPM (kalau tak silap! sebab saya tidak mengkaji puisi waktu SPM). Tapi mungkin ada beberapa frasa yang tidak tepat, maklumlah sudah lama dalam memori.

Kemudian, mendeklamasikan sajak ini menjadikan saya juara deklamasi sajak di sekolah.


Dengan sajak ini, saya membuat persembahan pada malam penutup Minggu Penulis Remaja 1994. Dengan sajak ini, membuat seseorang terpesona pada saya (ehem ehem) dan saya pun terpesona pada dia.

Alhamdulilah, Allah mengatur yang baik-baik untuk hamba-Nya, Allah memberi apa yang kita perlu bukan apa yang kita mahu.

4 comments:

kakchik said...

ehem-ehem....siapa orang tu...cepat bitauuuuu

Fizahanid said...

:P lupakan saja!

Anuar Manshor said...

Sambunglah lagi ceritanya...

Fizahanid said...

Anuar,
Sambungan dalam novel terbaru .. :D

Apa ada dengan Aku Anjing ?

Aku Anjing mungkin tajuk yang mengejutkan untuk sebuah kumpulan cerpen. Namun bagi pengarang, Saifullizan Yahaya, Aku Anjing dipil...